Dua Dasawarsa Reformasi

Dua dasawarsa silam, melalui perjalanan yang cukup panjang yang dipelopori mahasiswa, Soeharto akhirnya menyatakan mundur. Perjuangan mahasiswa pada 21 Mei berhasil memaksa Presiden Soeharto meninggalkan singgasana kekuasaannya setelah kurang lebih tiga puluh dua tahun menjabat

Kala itu, semua menaruh harapan, gerbang reformasi yang telah dibuka menjadi tanda untuk mengawali perubahan secara besar-besaran di berbagai bidang dan dengan penuh antusias pastinya akan membawa bangsa ini ke dalam kehidupan yang lebih baik. Momen reformasi saat itu boleh dibilang telah menandai berakhirnya pemerintahan yang sentralistis serta mampu menghasilkan rezim keterbukaan dan kebebasan politik.

Kini dua puluh tahun peristiwa bersejarah itu telah berlalu, kemudian bangsa ini melewati berbagai dinamikanya dan menata kembali bangunan kebangsaan yang ‘retak’ pada masa Orde Baru hingga bergeliat menjadi bangsa yang lebih maju dan demokratis.

Belum Signifikan

Permasalahannya, kendati pun usia reformasi sudah mencapai masa dua dasawarsa, namun realitasnya hingga kini belum dapat menampakkan hasil riil nan signifikan bagi perubahan konstelasi bangsa ini. Perubahan konfigurasi politik di Indonesia yang berjalan selama dua dekade sejak tumbangnya rezim otoriter Orde Baru tak serta merta berkorelasi dengan terjadinya perubahan kondisi kehidupan rakyatnya.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa perjalanan dua puluh tahun reformasi sejauh ini masih belum bergerak dari capaian-capaian yang bersifat prosedural dan institusional. Berbagai persoalan seolah tak berhenti menggelinding untuk menahan laju demokrasi yang tengah dibangun.

Konstelasi politik masih kental dan sarat berbagai intrik-mengintrik, penegakan hukum masih sering masuk ke dalam wilayah yang ‘abu-abu’. Pada saat yang sama, tata kelola negara juga bermasalah lantaran pengelolaan negara kerap tak on the track ideologi dan tak jua on the track regulasi. Tandasnya, acapkali ideologi dan regulasi tidak lagi diindahkan dalam mengelola negara saat ini.

Reformasi seakan-akan telah gagal melahirkan para negarawan yang bisa menuntaskan pelbagai problem bangsa ini. Reformasi laksana berada di labirin gelap yang tak berujung menuju jalan yang terang. Visi reformasi sebagaimana diteriakkan aktivis mahasiswa hingga harus mengorbankan nyawanya kemudian seperti menjadi sebuah ilusi yang mana tak pernah lagi diperjuangkan oleh para elite di negeri ini.

Ironisnya, di tengah meruyak dan menumpuknya berbagai sengkarut persoalan tersebut, reformasi justru jamak dihiasi oleh pemandangan pertarungan politik kekuasaan antar elite politik semata. Ruang dan instrumen demokrasi bukan digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi tak lebih dari sekedar perebutan kekuasaan dan jabatan atau bahkan melulu untuk mengejar keuntungan yang bersifat materi belaka.

Perlu Dikoreksi

Menyesakkan! Tapi itulah fragmen dari perjalanan bangsa ini. Tentu semua itu bukanlah ekspektasi bangsa ini melalui agenda reformasi yang dulu dengan lantang dan nyaring didengung-dengungkan. Menengok sejarah masa lalu, reformasi sejatinya merupakan salah satu upaya yang dilakukan bangsa Indonesia menuju kehidupan yang dicita-citakan rakyat.

Berbagai pergolakan yang masih marak terjadi sesungguhnya menjadi salah satu bukti konkret bahwa kerja keras bangsa ini untuk merevitalisasi semua sistem menuju kehidupan yang lebih baik belumlah usai. Pelik dan runyamnya persoalan-persoalan tersebut adalah ‘pekerjaan rumah’ yang menuntut untuk segera ditangani dan diselesaikan. Perlu banyak koreksi yang harus dilakukan oleh kita semua, terutama dan aksentuasinya oleh orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan.

Bahwa reformasi bukanlah sekedar lengsernya Soeharto, tetapi juga ihwal bagaimana reformasi bisa dimaknai sebagai pergerakan yang sangat fundamental untuk mengubah paradigma berpikir dari yang semula tertutup ke arah terbuka, dari yang awalnya destruktif menjadi konstruktif, dan dari hal yang mulanya statis menjadi dinamis.

Mengabaikan semangat reformasi merupakan pengingkaran atas kehendak kolektif bangsa ini. Melakukan yang terbaik demi bangsa sebagai amanat reformasi dulu merupakan sebuah hal yang niscaya untuk secara konstan dibumikan. Rakyat menunggu kerja konkret negara. (Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Edisi !8 Mei 2018 dalam rubrik opini halaman 18)


Identitas Penulis

Yulianta Saputra, S.H.

Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum,

Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler