MAHASISWA ILMU HUKUM MERAIH JUARA HARAPAN LOMBA DEBAT NASIONAL

Dua mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Ade Shela Apriantikawati dan Narasurya Ray Pasad, dan 1 mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara, Adika Arif Raya Hidayat Fitroh, berhasil meraih juara harapan dalam Lomba Debat Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Semarang (USM) dalam rangka Dies Natalis ke-37. Kompetisi ini diikuti oleh 16 tim dari perguruan tinggi se-Jawa dan Bali, dengan tema "Membangun Hukum yang Konstruktif dan Progresif Menuju Indonesia Emas."

Keberhasilan ini diraih setelah melalui perjuangan yang tidak mudah. Kedua delegasi harus menguasai 12 mosi debat dalam waktu satu bulan. Mosi-mosi tersebut mencakup berbagai bidang hukum seperti hukum adat, hukum agraria, hukum pidana, Undang-Undang ITE, hukum pidana khusus, hukum keluarga, hukum dagang, dan lainnya. Persiapan intensif dilakukan setiap hari, mulai dari bedah mosi, simulasi debat, hingga latihan berbicara. Mereka bahkan melanjutkan latihan hingga malam hari setelah perkuliahan selesai, termasuk latihan hingga pukul 3 dini hari sebelum keberangkatan ke USM.

Sesampainya di USM, persiapan tetap dilanjutkan dengan mematangkan strategi, menyusun skrip, dan mengikuti technical meeting. Namun, terjadi perubahan aturan selama technical meeting, di mana jumlah mosi yang semula 12 (10 untuk babak penyisihan dan 2 untuk final) dikurangi menjadi 8 mosi, yang sempat memicu perdebatan di antara peserta.

Perjalanan Kompetisi

Pada babak penyisihan pertama, mereka berhadapan dengan delegasi UIN Sultan Maulana Hasanuddin dengan mosi “Regulasi Transportasi Online.” Berada di posisi pro, mereka unggul dengan sistem penilaian victory point.

Pada babak selanjutnya, mereka menghadapi Universitas Kristen Maranatha dengan mosi “Urgensi RUU Perampasan Aset” di posisi pro. “Pembicara ketiga dari Maranatha sangat hebat, tapi Alhamdulillah kami bisa menang,” ungkap Ray, menceritakan pengalaman mereka lolos ke babak berikutnya.

Di babak berikutnya, mereka bertemu tim dari Universitas Diponegoro (Undip), yang beranggotakan mahasiswa semester 7. Menghadapi mosi “Imunitas bagi Aktivis Lingkungan” sebagai tim contra, mereka harus mengakui keunggulan tim Undip.

Setelah kalah dari Undip, mereka masuk ke babak perebutan juara ketiga melawan UIN Walisongo. Dengan mosi “Penghinaan Presiden” di posisi pro, perdebatan berlangsung sengit. Bahkan juri menyebut debat ini sebagai salah satu debat yang paling seru dan berimbang. Namun, mereka akhirnya harus puas menjadi juara harapan.

Penghargaan dan Harapan

Perjuangan Ade Shela Apriantikawati dan Narasurya Ray Pasad dalam ajang debat ini menjadi bukti dedikasi dan semangat mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum. Semoga pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengharumkan nama almamater.